Sejarah NLP

7/07/2010 02:40:00 PM Edit This 0 Comments »



Sejarah NLP (Neuro Linguistic Programming) bermula di California pada awal 1972 ketika Richard Bandler, mahasiswa University of Santa Cruz bersepakat dengan John Grinder, profesor bahasa, untuk mempelajari kesempurnaan keterampilan berkomunikasi. Kesempurnaan ini ditampilkan oleh beberapa orang yang terbukti mampu menyembuhkan klien yang tergolong “orang sulit” (atau bagi kebanyakan orang sudah layak disebut sebagai “mustahil”). Orang-orang yang terbukti mampu dan kemudian dijadikan model adalah:

* Virginia Satir, yang mengembangkan Conjoint Family Therapy.
* Fritz Perls, yang mendirikan aliran Gestalt Psychology.
* Milton H. Erickson, yang mengembangkan Clinical Hypnotherapy.

Bandler dan Grinder menemukan bahwa meskipun ketiga orang itu berbeda gaya dan kepribadian, ternyata ada pola yang sama dalam melakukan komunikasi. Pola itu memungkinkan ketiga orang tersebut mencapai kesempurnaan teknik komunikasi di bidang masing-masing. Jika benar demikian, pikir Bandler & Grinder, tentunya pola yang sama bisa dipakai untuk mencapai kesempurnaan di bidang lain. Hasil penelitian terhadap ketiga orang ini menjadi bahan baku bagi NLP. Selanjutnya Bandler dan Grinder memperkaya NLP dengan menyerap masukan dari:

* Alfred Korzybski, ahli lingustic, tentang mental map.
* Noam Chomsky, ahli linguistic, tentang deep & surface structure.
* Gregory Bateson, ahli antropologi, tentang logical level.

Kini NLP tidak hanya dipakai untuk keperluan terapetis, melainkan meluas pada berbagai disiplin di berbagai negara di dunia. Aplikasinya beragam mulai dari menghentikan kebiasaan buruk hingga menguasai gerakan senam, mulai dari rekrutmen pramugari sampai pelatihan sniper.

NLP Tahun 1970-an Adalah 2 orang bernama John Grinder dan Richard Bandler yang bertemu di University of California di Santa Cruz sekitar pertengah era 70-an. Grinder adalah seseorang dengan latar belakang psikologi yang lulus di awal tahun 1960. Ia kemudian berkarir di militer Amerika Serikat sebagai baret hijau di Eropa selama masa perang dingin. Keahliannya dalam hal bahasa membuatnya kemudian direkruit oleh jaringan intelijen AS. Akhir tahun 1960, ia pun kembali ke kampus dan memutuskan untuk memperdalam keahliannya dalam bidang lingustik hingga memperoleh Ph.D dari University of California di San Diego.



Sebagai seorang pakar linguistik, Grinder banyak mempelajari tentang syntax, dengan menggunakan dasar teori dari Noam Chomsky mengenai transformational grammar. Setelah banyak meneliti bersama pakar kognitif George Miller di Rockefeller University, ia pun terpilih sebagai asisten profesor lingustik di University of California kedua yang baru saja didirikan di Santa Cruz.



Sementara itu, Richard Bandler adalah seorang mahasiswa matematika dan ilmu komputer yang tertarik terhadap misteri yang membedakan mereka yang sangat ahli di bidangnya dengan orang-orang lain yang mendalami bidang yang sama. Salah satu orang yang membuatnya penasaran adalah Fritz Perls, seorang psikoterapis yang beraliran Gestalt yang amat terkenal akan keahliannya membantu penyelesaian masalah klien dalam waktu singkat. Ia pun mempelajari psikologi secara serius terutama kepada Fritz Perls ini.



Namun demikian, Bandler tidak puas hanya dengan mengikuti kuliah yang diberikan oleh Perls. Ia kemudian memilih untuk melakukan observasi secara langsung ketika Perls sedang memberi terapi kepada para kliennya. Di sinilah ia menyadari bakatnya dalam hal modelling alias ‘mencontek’ apa yang dilakukan oleh orang lain dan mempraktekkannya dengan tingkat keberhasilan yang sama.
Nah, kisah Grinder dan Bandler ini berlanjut ketika mereka bertemu dalam suatu kelas. Bandler yang saat itu telah berhasil mengenali teknik-teknik terapi Perls rupanya masih menemui kesulitan dalam menerjemahkannya ke dalam pola-pola yang lebih sistematis dan mudah diajarkan kepada banyak orang. Singkat cerita, keahlian Grinder dalam hal mengenali pola menarik perhatian Bandler yang segera mengajaknya bekerja sama untuk mengeksplorasi keahlian Perls.



Selesai dengan Perls, mereka berdua melanjutkan petualangan dengan mempelajari Virginia Satir. Satir ini adalah seorang pakar terapi keluarga yang juga amat terkenal ketika itu. Dari hasil eksplorasi terhadap kedua pakar inilah, lahir teknik pertama NLP yang dinamakan Meta Model. Sebagai gambaran singkat, meta model adalah sebuah teknik komunikasi yang menghendaki presisi sehingga membuat kita mampu memahami makna yang berada di balik apa yang diucapkan oleh orang lain. Penemuan mereka ini kemudian ditulis menjadi sebuah buku yang berjudul The Structure of Magic.


Dalam kolaborasi mereka, Grinder dan Bandler banyak berdiskusi dengan Gregory Bateson, seorang antropolog yang banyak mendalami tentang teori sistem dan memiliki pandangan-pandangan yang dianggap radikal. Melihat keseriusan mereka berdua, Bateson pun menyarankan untuk memodel seorang hypnoterapis legendaris yang juga merupakan presiden dari American Society for Clinical Hypnosis, Milton H. Erickson. Keahlian Erickson yang diabadikan dalam salah satu aliran hypnosis, Ericksonian Hypnosis, merupakan penemuan baru bagi Grinder dan Bandler yang mereka beri nama Milton Model dan didokumentasikan dalam buku yang berjudul The Structure of Magic II.


NLP pun kemudian semakin berkembang seiring dengan bergabungnya beberapa pendiri lain seperti Leslie-Cameron Bandler, Judith DeLozier, Robert Dilts, dan David Gordon.

0 komentar: